Kalau sekarang ditanya ‘hobimu apa?’, hampir selalu kujawab ‘membaca dan desain grafis’, sepertinya selalu itu jawabanku.

Tak terasa sudah 2 tahun menjadi berkelana dalam dunia desain. Jalan berliku, entah sudah berapa tikungan kulalui, sudah berapa kali kujumpai batu yang menghadang, ataupun tak sengaja kaki ini tertusuk duri, aku lupa. Yang aku ingat aku menikmatinya 🙂

Ya, aku menikmatinya. Walaupun awalnya aku tak berniat sejauh ini terjerumus di dalamnya, lebih tepatnya aku dijerumuskan didorong, hehe. Masih teringat, Safrida KMMF 1431 H, mantan Kabid MO menanyai kemampuanku mengoperasikan Corel. Walaupun ‘sedikit’ aku menjawab, beliau menunjukku jadi PJ PDD. Terima kasih sudah mempercayai aku yang padahal tidak percaya akan kemampuanku sendiri (atau mungkin karena waktu itu yang lain pada ga mau ya? hmm.. hanya beliau yang tahu). As a maba dan masih magang, panik dan khawatir berputar-putar di otakku, secara sepertinya tanggung jawabnya besar. Mana anggotanya disuruh nyari sendiri –a.

Sejak itu aku mulai belajar Corel, berbekal buku desain yang fullcolour dan mudah dipahami instruksinya (lupa judulnya apa, masih dipinjam teman). And…hey, I liked it! (mungkin karena sejak kecil hobiku menggambar, hehe)

Oh iya, ada teman-teman yang berbagi ilmu desain juga. Kami tim PDD (Dewi Magistasari, Ade, Alif, Wahyu, Surya kalau ga salah ya? maaf kalau ada yang ga kesebut, ingatkan aku dong >.<) pertama kali melaksanakan job di perpus, nge-desain publikasi.

Ini desain pertama ku (kami) –> Poster Safrida 1431 H
Lucu juga ya, ahahha.. xD

Sayang sekali, ga terpakai karena erupsi merapi datang lebih dulu. Tapi gapapa, jadi pembelajaran 🙂

Setelah pengalaman di kepanitiaan Safrida ini, aku semakin tertarik mendalami dunia desain dan berusaha lebih dari sekedar teman dengan Corel, dan Photoshop juga. That’s why I chosed Media Opini 😀

(Bahkan aku lebih betah berjam-jam di depan corel daripada di depan laporan #plak. mungkin karena yang digunakan otak kanan ya.)

****

Sebenarnya aku menuliskan curhatan catatan perjalananku di atas sebagai bentuk instropeksi atas kejadian hari ini. Masih malu-malu jualan Jaresuju di kampus. Ku sadari, memulai sesuatu dari nol itu tidak mudah, apalagi kalau sifatmu sendiri adalah penghalangnya. Kalau dulu di persimpangan antara ‘bersedia’ dan ‘tidak bersedia’ menjadi PJ PDD, aku memilih jalan ‘tidak bersedia’, mungkin kemampuanku kurang berkembang. Kalau dulu ketika ketidakmampuanku dan kekurangpercayaandiriku menjadi batu penghalang di tengah-tengah perjalananku, aku memilih berhenti dan kembali ke start, mungkin aku sama sekali tidak akan terjerumus di dunia desain. Aku bersyukur, melalui orang-orang di sekitarku, Allah meyakinkanku memilih jalan ini.

Dalam perjalanan hidupmu, ketika kau menjumpai persimpangan, pastikan jalan yang kau pilih benar menurut pertimbangan akal dan qalbumu. Ketika kau menjumpai batu penghalang yang besar, pastikan kau gunakan batu itu untuk melompat lebih tinggi, menggapai impian-impianmu. Karena kau tidak pernah tahu apa yang ada diujung jalanmu, selalu berbaiksangkalah 🙂

Ya, kita bisa karena terbiasa dan berusaha.

Semoga diri ini tetap istiqomah dalam usahanya menjadi entrepreneur. Kenapa? Karena Rasulullah pun berwirausaha 🙂

****

mau bantu saya mewujudkan impian?

Anda bisa memesan desain undangan, pin, stiker, poster dan sejenisnya ke saya, nego 🙂

atau… beli Jaresuju ^^ #promosi #eaa

sekian, terima kasih..