Sebagian orang, marahnya dengan diam, sedihnya dengan diam, dan kadang senangnya juga dengan diam.

Orang yang marah dengan diam takut kata-kata amarahnya melukai orang lain,  mengubah cara pandang orang terhadapnya, atau justru memperbesar masalah. Namun dirinya masih merasa kesal , sehingga mendiamkan orang yang bersalah adalah caranya untuk menyadarkan orang tersebut. Cara ini kadang efektif namun tak selalu, karena tidak semua orang peka akan perubahan sikap orang dan merasa bersalah.

Orang yang sedih dengan diam tidak ingin merepotkan orang lain, tidak suka dikasihani, atau karena kesedihan yang terlalu mendalam tak semudah itu diekspresikan. Orang yang sedih dengan diam akan berusaha terlihat tegar di luar, namun saat ia sendiri, menangis adalah cara mengurangi tekanan dalam hati, walaupun ia tahu menangis tak akan menyelesaikan masalah.

Orang yang senang dengan diam takut orang lain salah mengintrepretasikan rasa syukurnya sebagai kesombongan. Ia takut ada pihak yang terluka atas rizki yang ia terima.

Orang-orang dengan diam, cenderung memendam semua masalah sendirian. ‘Nggak ada apa-apa kok’ adalah jawabannya ketika ditanya.

Ah, diam memang emas. Tapi itu berlaku saat tak ada kata-kata baik untuk diucapkan.