Sepanjang Perjalanan Hidup

Kalau sekarang ditanya ‘hobimu apa?’, hampir selalu kujawab ‘membaca dan desain grafis’, sepertinya selalu itu jawabanku.

Tak terasa sudah 2 tahun menjadi berkelana dalam dunia desain. Jalan berliku, entah sudah berapa tikungan kulalui, sudah berapa kali kujumpai batu yang menghadang, ataupun tak sengaja kaki ini tertusuk duri, aku lupa. Yang aku ingat aku menikmatinya 🙂

Ya, aku menikmatinya. Walaupun awalnya aku tak berniat sejauh ini terjerumus di dalamnya, lebih tepatnya aku dijerumuskan didorong, hehe. Masih teringat, Safrida KMMF 1431 H, mantan Kabid MO menanyai kemampuanku mengoperasikan Corel. Walaupun ‘sedikit’ aku menjawab, beliau menunjukku jadi PJ PDD. Terima kasih sudah mempercayai aku yang padahal tidak percaya akan kemampuanku sendiri (atau mungkin karena waktu itu yang lain pada ga mau ya? hmm.. hanya beliau yang tahu). As a maba dan masih magang, panik dan khawatir berputar-putar di otakku, secara sepertinya tanggung jawabnya besar. Mana anggotanya disuruh nyari sendiri –a.

Sejak itu aku mulai belajar Corel, berbekal buku desain yang fullcolour dan mudah dipahami instruksinya (lupa judulnya apa, masih dipinjam teman). And…hey, I liked it! (mungkin karena sejak kecil hobiku menggambar, hehe) Read more

Serpihan Cermin #2

Sejenak terdiam, aku berpikir. Lalu sambil tersenyum kudekatkan serpihan cermin itu seraya berkata,”Bukan orang lain tak berusaha memahamimu. Mereka mencoba, namun terkadang apa yang mereka pahami bukan seperti yang kamu maksudkan dan inginkan, atau mereka paham hanya saja penyampaiannya keliru. Kau tahu kan? Setiap orang punya sudut pandang, pendapat dan karakteristik yang berbeda. Dan kau, tak selalu bisa memaksakan semua berjalan sesuai keinginanmu :)”.

Serpihan Cermin

Di suatu waktu hiduplah seorang pemuda yang berusaha bersikap baik. Ia berusaha sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain. Untuk hal yang bisa ia kerjakan sendiri, ia memilih menyelesaikannya sendiri. Anehnya, dia begitu susah menolak permintaan orang lain yang membutuhkan bantuannya, bahkan di saat dia belum menyelesaikan pekerjaannya sendiri.

Suatu hari, aku melihatnya bersedih. Ia bertanya,”bahkan saat aku telah menjelaskan keadaanku, mengapa orang lain tak mencoba memahamiku?”. Aku hanya bisa terdiam, karena mungkin aku salah satu dari mereka yang belum bisa sepenuhnya memahami keadaan orang lain.

Memahami Diam

Sebagian orang, marahnya dengan diam, sedihnya dengan diam, dan kadang senangnya juga dengan diam.

Orang yang marah dengan diam takut kata-kata amarahnya melukai orang lain,  mengubah cara pandang orang terhadapnya, atau justru memperbesar masalah. Namun dirinya masih merasa kesal , sehingga mendiamkan orang yang bersalah adalah caranya untuk menyadarkan orang tersebut. Cara ini kadang efektif namun tak selalu, karena tidak semua orang peka akan perubahan sikap orang dan merasa bersalah.

Orang yang sedih dengan diam tidak ingin merepotkan orang lain, tidak suka dikasihani, atau karena kesedihan yang terlalu mendalam tak semudah itu diekspresikan. Orang yang sedih dengan diam akan berusaha terlihat tegar di luar, namun saat ia sendiri, menangis adalah cara mengurangi tekanan dalam hati, walaupun ia tahu menangis tak akan menyelesaikan masalah.

Orang yang senang dengan diam takut orang lain salah mengintrepretasikan rasa syukurnya sebagai kesombongan. Ia takut ada pihak yang terluka atas rizki yang ia terima.

Orang-orang dengan diam, cenderung memendam semua masalah sendirian. ‘Nggak ada apa-apa kok’ adalah jawabannya ketika ditanya.

Ah, diam memang emas. Tapi itu berlaku saat tak ada kata-kata baik untuk diucapkan.

Kalender Maret-Juni 2012 / Rabi’ul Akhir-Sya’ban 1433 H

Mendesain itu seperti main game dikala penat oleh laporan 😀